Pragmatik: Pengertian, Konteks, Deiksis, Implikatur, Tindak Tutur, dan Contohnya

Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, “Wah, ruang kelas ini panas sekali ya?” Kalimat tersebut sekilas hanya berisi pernyataan tentang suhu udara. Namun, jika diucapkan oleh seorang siswa kepada temannya yang berada di dekat saklar pendingin ruangan, makna kalimat itu langsung berubah. Kalimat tersebut sejatinya bukan sekadar laporan cuaca mini, melainkan sebuah permintaan halus agar pendingin ruangan segera dinyalakan.

Fenomena kebahasaan seperti inilah yang menjadi ruang lingkup utama dari studi pragmatik. Dalam studi linguistik, bahasa tidak hanya dipelajari sebagai susunan kata yang kaku di atas kertas. Bahasa hidup di dalam interaksi sosial nyata yang dipengaruhi oleh berbagai faktor luar.

Bagi kamu siswa jenjang SMA, memahami pragmatik sangatlah krusial. Materi ini tidak hanya muncul dalam ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga menguji pemahaman literasi dalam soal-soal seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Artikel ini akan membimbing kamu menguasai materi pragmatik secara mendalam, terstruktur, dan mudah dipahami.

Memahami Pengertian Pragmatik dan Perbedaannya dengan Semantik

Untuk memahami pragmatik secara utuh, kamu perlu melihatnya sebagai salah satu cabang utama dalam ilmu linguistik. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara konteks pemakaian dan makna tuturan. Ilmu ini meneliti bagaimana pendengar atau pembaca mampu menarik kesimpulan dari sebuah tuturan berdasarkan situasi saat ucapan tersebut disampaikan.

Banyak siswa sering tertukar antara pragmatik dan semantik. Padahal, titik fokus kedua cabang ilmu kebahasaan ini sangatlah berbeda. Semantik mengkaji makna kualitatif kata atau kalimat yang bersifat bebas konteks. Artinya, semantik fokus pada arti harfiah sebagaimana tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sebaliknya, pragmatik mengkaji makna yang terikat oleh konteks pemakaian bahasa. Pragmatik meneliti makna yang diinginkan oleh penutur, bukan sekadar arti harfiah dari kata-kata yang diucapkan.

Indikator PembedaSemantikPragmatik
Fokus UtamaMakna harfiah / makna kamus (literal meaning)Makna penutur / maksud tersirat (speaker meaning)
Sifat MaknaBebas konteks (context-independent)Terikat konteks (context-dependent)
Pertanyaan Kunci“Apa arti dari kalimat ini?”“Apa maksud penutur saat mengucapkan kalimat ini?”
Objek KajianKata, klausa, dan struktur kalimatTuturan dalam konteks situasi sosial

Untuk memperjelas perbedaan tersebut, mari cermati contoh kalimat sederhana berikut: “Kunci pintu itu ada di meja.”

Secara semantik, kalimat di atas hanya menginformasikan keberadaan sebuah benda bernama kunci di atas objek bernama meja. Namun secara pragmatik, makna kalimat tersebut bisa berubah total tergantung siapa yang mengucapkannya. Jika diucapkan oleh seorang ibu kepada anaknya yang berdiri di depan pintu rumah yang terkunci, kalimat itu bermakna perintah: “Ambillah kunci itu dan buka pintunya sekarang!”

Konteks: Kunci Utama Membaca Maksud Ujaran

Konteks adalah pilar paling fundamental dalam analisis pragmatik. Tanpa adanya konteks, sebuah tuturan dapat menimbulkan penafsiran ganda atau bahkan salah paham. Konteks dalam pragmatik merujuk pada seluruh latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan lawan tutur.

Konteks tidak hanya mencakup lokasi fisik saat percakapan berlangsung. Konteks dalam ilmu bahasa terbagi menjadi beberapa elemen penting yang saling mempengaruhi satu sama lain.

  • Konteks Fisik (Physical Context): Meliputi tempat tuturan diucapkan, objek yang ada di sekitar tempat kejadian, serta waktu terjadinya interaksi.
  • Konteks Sosial (Social Context): Meliputi hubungan sosial, status, hierarki, dan tingkat keakraban antara penutur dan mitra tutur.
  • Konteks Epistemik (Epistemic Context): Berupa latar belakang pengetahuan dan asumsi umum yang dipahami oleh kedua belah pihak.
  • Konteks Linguistik / Ko-teks (Linguistic Context): Berupa rangkaian kalimat atau kata-kata sebelum dan sesudah tuturan disampaikan.

Peran konteks sangat menentukan arah makna suatu tuturan. Sebagai contoh, perhatikan ucapan sederhana ini: “Jam berapa sekarang?”

Jika pertanyaan ini diucapkan oleh seorang siswa kepada temannya di kantin sekolah, maknanya adalah murni menanyakan informasi waktu. Namun, jika kalimat yang sama diucapkan oleh seorang guru dengan nada tegas kepada siswa yang baru saja melangkah masuk kelas saat jam pelajaran sudah berjalan 30 menit, maknanya berubah menjadi teguran keras atas keterlambatan.

Konteks sosial dan situasional itulah yang mengubah sebuah pertanyaan informasi menjadi ucapan sindiran atau teguran. Oleh karena itu, kemampuan menganalisis konteks merupakan kunci utama dalam membedakan makna tersirat dari tuturan sehari-hari.

Deiksis: Kata Penunjuk yang Berubah Makna

Pernahkah kamu membaca pesan singkat yang berbunyi, “Aku akan menemui kamu di sini besok”? Tanpa mengetahui siapa pengirimnya, kapan pesan itu dikirim, dan di mana lokasi pengirimnya, kamu tidak akan pernah bisa memahami arti pasti dari pesan tersebut.

Kata-kata seperti aku, kamu, di sini, dan besok merupakan contoh dari gejala kebahasaan yang disebut deiksis.

Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti ‘menunjuk’ atau ‘menunjukkan’. Dalam pragmatik, deiksis adalah fenomena di mana makna kata atau frasa tertentu bergantung sepenuhnya pada konteks tuturan. Kata deiktik tidak memiliki rujukan yang tetap karena referennya terus berubah-ubah mengikuti penutur, lokasi, dan waktu saat tuturan diucapkan.

Jenis-Jenis Deiksis dan Contohnya

Dalam studi pragmatik klasik, deiksis dikelompokkan ke dalam lima kategori utama yang wajib kamu kuasai:

                  ┌── 1. Deiksis Persona (Siapa?)
                  ├── 2. Deiksis Tempat (Di mana?)
JENIS DEIKSIS ────┼── 3. Deiksis Waktu (Kapan?)
                  ├── 4. Deiksis Wacana (Bagian teks mana?)
                  └── 5. Deiksis Sosial (Apa hubungan sosialnya?)

1. Deiksis Persona

Deiksis persona adalah penunjukan pada peran peserta dalam situasi tutur. Kategori ini mencakup persona pertama (penutur), persona kedua (mitra tutur), dan persona ketiga (pihak luar).

  • Kata deiktik: aku, saya, kamu, Anda, dia, mereka, kita, kami.
  • Contoh:Saya sudah mengerjakan bagian tugas ini.” (Kata saya merujuk pada individu yang sedang berbicara pada momen tersebut).

2. Deiksis Tempat (Spasial)

Deiksis tempat adalah penunjukan pada lokasi relatif antara objek atau tempat dengan posisi penutur saat mengucapkan kalimat.

  • Kata deiktik: ini, itu, di sini, di situ, di sana, kemari.
  • Contoh: “Tolong letakkan buku itu di sini.” (Kata di sini merujuk pada titik fisik di dekat posisi penutur berada).

3. Deiksis Waktu (Temporal)

Deiksis waktu adalah penunjukan pada rentang waktu relatif saat tuturan disampaikan oleh penutur.

  • Kata deiktik: sekarang, besok, kemarin, lusa, minggu depan, tadi.
  • Contoh: “Kita akan mengadakan latihan ujian besok.” (Rujukan hari pasti dari kata besok bergantung penuh pada hari apa tuturan tersebut diucapkan).

4. Deiksis Wacana

Deiksis wacana adalah penunjukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana atau teks yang sedang berlangsung (baik bagian yang sudah disampaikan maupun yang akan disampaikan).

  • Kata deiktik: tersebut, berikut ini, demikian, hal di atas.
  • Contoh:Berikut ini adalah syarat pendaftaran yang harus dipenuhi.” (Kata berikut ini merujuk pada teks yang akan ditulis setelah kalimat tersebut).

5. Deiksis Sosial

Deiksis sosial adalah penunjukan yang mencerminkan perbedaan sosial, status, atau hubungan keakraban antara penutur dan mitra tutur.

  • Kata deiktik: Bapak, Ibu, Yang Mulia, Bro, Sis, Prof.
  • Contoh: “Apakah Bapak berkenan hadir dalam rapat sore nanti?” (Penggunaan kata Bapak menunjukkan tingkat penghormatan dan jarak sosial yang sopan).

Implikatur: Memahami Maksud Tersirat di Balik Kata

Dalam komunikasi sehari-hari, manusia sering kali tidak menyampaikan maksud utamanya secara langsung. Kita kerap menggunakan bahasa yang berputar-putar karena alasan kesopanan, efisiensi, atau strategi komunikasi sosial. Fenomena tersirat ini dinamakan implikatur.

Implikatur adalah maksud, ungkapan, atau pesan tersirat dalam suatu tuturan yang tidak secara langsung menjadi bagian dari tuturan itu sendiri. Konsep implikatur pertama kali dicetuskan oleh filsuf bahasa ternama bernama H. Paul Grice.

Grice membagi implikatur menjadi dua jenis utama, yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan (conversational implicature).

1. Implikatur Konvensional

Implikatur konvensional adalah makna tersirat yang dihasilkan langsung dari arti kata itu sendiri berdasarkan kesepakatan tata bahasa, bukan dari situasi percakapan.

  • Contoh: “Dia orang Jawa, tetapi dia tidak suka pedas.”
  • Analisis: Kata tetapi secara konvensional membawa implikatur adanya pertentangan. Kalimat tersebut membawa implikatur umum bahwa ada pandangan populer bahwa orang Jawa identik dengan makanan manis atau pedas tertentu, namun subjek kalimat menjadi pengecualian.

2. Implikatur Percakapan

Implikatur percakapan adalah makna tersirat yang muncul akibat prinsip percakapan dan konteks khusus dalam sebuah interaksi. Implikatur jenis ini bersifat fleksibel dan dapat dibatalkan tergantung konteksnya.

Perhatikan dialog antara dua siswa SMA berikut ini:

  • Budi: “Apakah kamu punya uang tunai lima puluh ribu rupiah?”
  • Siti: “Dompetku tertinggal di dalam tas sekolah.”

Secara harfiah, Siti tidak menjawab pertanyaan Budi dengan kata “Punya” atau “Tidak”. Namun secara implikatur percakapan, ucapan Siti mengandung makna tersirat: “Aku tidak bisa meminjamkanmu uang tunai saat ini karena dompetku tidak ada padaku.”

Prinsip Kerja Sama Grice (Gricean Maxims)

Menurut Grice, implikatur percakapan dapat terjadi karena penutur sengaja melanggar (flouting) Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle). Dalam interaksi yang ideal, peserta tutur diharapkan mematuhi empat maksim (aturan dasar) berikut:

  1. Maksim Kuantitas (Maxim of Quantity): Berikan informasi sesuaian kebutuhan, tidak kurang dan tidak berlebihan.
  2. Maksim Kualitas (Maxim of Quality): Katakan hal yang benar dan didukung oleh bukti yang valid.
  3. Maksim Relevansi (Maxim of Relation): Pastikan tuturan relevan dengan topik pembicaraan.
  4. Maksim Cara (Maxim of Manner): Katakan sesuatu secara jelas, tidak kabur, dan teratur.

Ketika seseorang sengaja melanggar salah satu maksim di atas, lawan tutur yang responsif akan berusaha mencari makna tersirat di balik pelanggaran tersebut. Proses pencarian makna tersirat itulah yang melahirkan pemahaman implikatur.

Tindak Tutur (Speech Acts): Ketika Ujaran Adalah Tindakan

Konsep penting berikutnya dalam pragmatik adalah tindak tutur (speech act). Teori ini diawali oleh pandangan filsuf J.L. Austin yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh J.R. Searle.

Prinsip dasar dari teori tindak tutur sangat sederhana namun mendalam: saat seseorang mengucapkan sesuatu, orang tersebut sebenarnya juga sedang melakukan suatu tindakan. Bahasa tidak hanya berfungsi untuk menggambarkan dunia, tetapi juga untuk mengubah keadaan dunia di sekitar penutur.

Tiga Tingkatan Tindak Tutur (Austin)

Saat seseorang mengutarakan sebuah kalimat, secara bersamaan terjadi tiga tingkatan tindakan sekaligus:

NoJenis Tindak TuturNama Asli (Term)Definisi / Fungsi Utama
1Tindak LokusiLocutionary ActTindakan mengujarkan kalimat sesuai arti harfiah.
2Tindak IlokusiIllocutionary ActTindakan melakukan sesuatu dengan fungsi/daya tertentu.
3Tindak PerlokusiPerlocutionary ActEfek/dampak tuturan terhadap pendengar.

Untuk memahami ketiga tingkatan ini dengan mudah, cermati skenario berikut: Seorang ibu berkata kepada anaknya, “Ada ular berbisa di belakangmu!”

  • Tindak Lokusi: Ibu tersebut mengujarkan rangkaian kata “Ada ular berbisa di belakangmu” dengan makna harfiah bahwa ada seekor reptil berbisa di lokasi tersebut.
  • Tindak Ilokusi: Ibu tersebut bermaksud mewanti-wanti atau peringatan keras (warning) agar sang anak tidak melangkah mundur.
  • Tindak Perlokusi: Efek yang terjadi pada pendengar (anak), yaitu sang anak menjadi terkejut, merasa takut, dan langsung melompat menjauh.

5 Kategori Tindak Ilokusi Menurut John R. Searle

Dari ketiga tingkatan di atas, tindak ilokusi merupakan inti utama dari kajian pragmatik. J.R. Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi menjadi lima kategori utama berdasarkan fungsi komunikatifnya:

1. Tindak Tutur Asertif (Representatif)

Tindak tutur yang mengikat penuturnya pada kebenaran proposisi yang diungkapkan.

  • Fungsi: Menyatakan, mengusulkan, melaporkan, mengeluhkan, mengklaim.
  • Contoh: “Ibu kota Indonesia akan berpindah secara bertahap ke Nusantara.”

2. Tindak Tutur Direktif

Tindak tutur yang ditujukan agar pendengar melakukan tindakan tertentu sesuai keinginan penutur.

  • Fungsi: Meminta, menyuruh, memerintah, menyarankan, menasihati, memohon.
  • Contoh: “Kerjakan latihan soal halaman 45 ini sekarang juga!”

3. Tindak Tutur Komisif

Tindak tutur yang mengikat penutur untuk melakukan tindakan tertentu di masa depan.

  • Fungsi: Berjanji, bersumpah, menawarkan diri, mengancam.
  • Contoh: “Aku berjanji akan membantumu belajar matematika besok malam.”

4. Tindak Tutur Ekspresif

Tindak tutur yang menyatakan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan tertentu.

  • Fungsi: Mengucapkan terima kasih, meminta maaf, menyelamati, memuji, mengeluh.
  • Contoh: “Selamat ya, kamu berhasil meraih peringkat pertama di kelas!”

5. Tindak Tutur Deklaratif (Deklarasi)

Tindak tutur yang pengutarannya dapat mengubah status sosial atau realitas suatu objek/situasi secara instan (biasanya membutuhkan kewenangan institusional).

  • Fungsi: Menikahkan, memecat, membaptis, memberi nama, memutuskan hukuman.
  • Contoh: “Dengan ini, saya menyatakan kamu resmi lulus seleksi penerimaan siswa baru.”

Panduan Analisis Pragmatik Sederhana untuk Tugas Sekolah

Bagi kamu yang mendapatkan tugas analisis wacana atau persiapan ujian sekolah, berikut adalah framework (kerangka kerja) sederhana untuk membongkar makna pragmatik dalam teks atau dialog:

  1. Identifikasi Tuturan: Tentukan kalimat pasti yang akan dianalisis dari teks atau dialog.
  2. Urai Konteks Situasi: Siapa penuturnya? Siapa lawan tuturnya? Di mana lokasinya? Apa hubungan sosial keduanya?
  3. Cari Kata Deiktik: Tandai kata penunjuk waktu, tempat, atau orang dalam tuturan tersebut.
  4. Tentukan Jenis Tindak Ilokusi: Apakah kalimat itu tergolong asertif, direktif, komisif, ekspresif, atau deklaratif?
  5. Tarik Kesimpulan Implikatur: Tentukan apakah ada makna tersirat yang berbeda dari makna kata secara harfiah.

FAQ (5 Pertanyaan Singkat & Jawaban Langsung)

Q: Apa perbedaan utama antara semantik dan pragmatik?

A: Semantik mempelajari arti kata atau kalimat secara harfiah bebas dari konteks, sedangkan pragmatik mempelajari makna tersirat yang diinginkan penutur sesuai konteks situasinya.

Q: Mengapa konteks sangat penting dalam memahami maksud tuturan?

A: Karena konteks menentukan makna sebenarnya dari suatu kalimat; tanpa konteks, kalimat yang sama bisa ditafsirkan salah atau memiliki arti yang jauh berbeda dari maksud penutur.

Q: Apa yang dimaksud dengan deiksis dalam ilmu bahasa?

A: Deiksis adalah fenomena kata atau frasa penunjuk yang maknanya terus berubah-ubah tergantung siapa penuturnya, serta kapan dan di mana ucapan tersebut disampaikan.

Q: Bagaimana cara mengetahui adanya implikatur dalam sebuah percakapan?

A: Implikatur dapat diketahui jika jawaban atau tuturan seseorang tampak tidak menjawab secara langsung (melanggar maksim percakapan), sehingga pendengar harus menarik kesimpulan tersirat berdasarkan konteks.

Q: Mengapa ucapan “Selamat atas kelulusanmu” termasuk tindak tutur ekspresif?

A: Karena tuturan tersebut berfungsi untuk mengungkapkan perasaan, rasa empati, atau sikap psikologis kegembiraan penutur terhadap keberhasilan lawan tuturnya.

Referensi & Sumber Bacaan

  • Austin, J. L. (1962). How to do things with words. Oxford University Press.
  • Grice, H. P. (1975). Logic and conversation. Dalam P. Cole & J. L. Morgan (Eds.), Syntax and semantics 3: Speech acts ( hlm. 41–58). Academic Press.
  • Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge University Press.
  • Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.
  • Yule, G. (1996). Pragmatics. Oxford University Press.

Ingin menguasai materi linguistik, literasi Bahasa Indonesia, dan strategi sukses seleksi PTN secara lebih mendalam? Mari persiapkan masa depan akademikmu bersama Silasnum Education — dapatkan pendampingan komprehensif mulai dari persiapan masuk kampus impian hingga perencanaan karier masa depanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *